Tampilkan postingan dengan label seputar jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputar jogja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2009

perempuan perkasa dari bering harjo

Lantai 2 di los Krupuk dan Rambak Pasar Beringharjo sore itu terlihat senyap. Tinggal seorang satpan berdiri dibibir tangga. Padahal jam belum genap pukul lima sore. Kios-kios sudah tutup. Dagangan sudah ditutup terpal. Tak ada lagi manol dan endong-endong di tangga pasar. Mungkin Mbah Semi sudah nyengklak bis menuju rumah. Kepancal.

Setelah menyusur pasar, bertanya pada satpam dan seorang ibu bakul, akhirnya saya menuju ke depan radio Arma Sebelas. Mungkin lagi Mbah Semi naik bis disini. Jalur 15 tujuan Gamping. Perkiraan yang masuk akal. 15 menit berlalu dan sosok Mbah Semi tak segera muncul. Sudah 3 bis jalur 15 dan tidak ada beliau didalamnya. Mungkin beliau sudah didalam bis pertama menuju ganti bis kedua di Pasar Gamping. Disana, beliau tetap juga tidak ada.

Berbekal tanya sebanyak 3 kali, saya pun sampai di desa Perengkembang, Balecatur Gamping Sleman. Tidak terlalu sulit menemukan rumah beliau. Benar kata simbah, nama suaminya, Wanto Utomo memang kondang di desa itu. “Mangkih njenengan tanglet mawon dalem e mbah Wanto Utomo, sedoyo sampun sami mangertos,” ujar beliau kamis lalu. Ternyata kondangnya simbah karena sakit yang dideritanya. Beberapa tahun lalu suami Mbah Semi ini ditabrak seorang pemuda mabuk saat sedang mencari rumput. Kaki kanannya patah. Operasi pasang platina pun dilakukan di RS. PKU Muhammadiyah.

Bekas lukanya telah kering namun kakinya tetap susah digerakkan. Kakinya nampak legok. Kecelakaan itu mengubah segalanya. Mbah Semi terpaksa menjual sawahnya untuk menutup biaya operasi sebesar 5 juta. ”Sabin kulo sade pajeng 8 yuta, amargi ingkang nabrak namung urun 2 yuta,” cerita beliau. Sisa uang tersebut digunakan berobat jalan dan menyambung hidup setelah tidak lagi mempunyai sawah. ”Namun kulo ingkang golek pangan, lha bapakke sampun mboten saged mlampah,” jelas beliau sambil menepuk dada. Mbah Semi menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo. Pekerjaan ini telah dilakoninya sejak tahun 1953. Sebenarnya pekerjaan ini dulunya hanya bersifat samben bagi beliau. Dirumah sederhananya berlantai tanah ia tinggal bersama suami, 2 putri dan seorang mantunya. Sedangkan 2 putrinya yang lain tinggal terpisah darinya, bekerja dan hanya setahun sekali pulang saat Lebaran.

Saat saya datang, Mbah Semi dan suaminya sedang leyeh-leyeh di lincak bambu diteras rumah. Beliau tergopoh menyambut saya.”Jebul mboten goroh, siyos mriki saestu,” canda Mbah Semi pada saya. Rupanya hari ini Mbah Semi tidak berangkat ke pasar. Badannya pegel. ”Awak kulo nembe pegel, sajake nyuwun leren”, jelas beliau pada saya. Ya, saya bisa membayangkan rasa capainya. Setiap hari simbah harus menempuh perjalanan pulang pergi dengan 2 kali ganti angkutan menuju dan dari pasar. Setelah itu segera bekerja mengendong barang yang berkilo-kilo beratnya. ”Kulo sakniki namung kiyat ngendong paling abot 30 kilo,” papar wanita berusia 70 tahun ini.

Menghitung pendapatan Mbah Semi semakin membuat trenyuh. Seringkali ia nombok karena sepi atau bahkan karena tidak ada pelanggan sama sekali. Kamis lalu, di hari pertama saya berjumpa dengan beliau misalnya. Di hari itu beliau hanya memperoleh 2 kali gendongan dengan total pendapatan 6000 rupiah. Gendongan pertama dihargai 2000 rupiah dan kedua sebesar 4000 rupiah. Padahal ongkos transport beliau setiap hari adalah 7000 rupiah. Transaksi jasa dengan pelangganpun tidak semuanya mulus. Sering dari mereka menawar jasa gendongan Mbah Semi dengan harga yang sangat murah. ”Wonten ingkang remen ngenyang lan uthil mbak, warni warni,” katanya. Meski murah, tawaran ngendong tetap diambilnya demi keluarganya.

Menurunnya daya beli di pasar dan melambungnya harga sembako semakin mempersulit Mbah Semi. Sekarang, beliau mengurangi jatah makan menjadi 2 kali. Perutnya cuma dislemeki teh pahit seharga 500 rupiah. Ia tidak sanggup membeli sarapan nasi sayur seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Ini bertolak belakang dengan ributnya saya yang saban hari justru repot memilih tempat dan menu makanan meski perut belum lapar. Sedangkan mereka sedang berjuang untuk mengisi perut untuk makan hari ini, menggendong kehidupan. Ah, betapa jahatnya saya...

(goresan mbak fitri - fitri's site - rachmasawitris.multi[lt.com)

Selasa, 14 April 2009

jogja is not so sweet like dahulu

Semenjak blog lama saya tutupm my city of jogja berubah dan akhirnya, saya sendiri terjdang merasa asing di kampung ku ini. Betapa tidak. Lihatlah daftar yang saya bikin di bawah ini


1. NO GOOD TAXI
Heran gak sih, di kota yang jadi tujuan wisata utama di negeri ini, susah banget dapet taxi yang baik. Harus tawar menawar, dan gak mau pake Argo. Kalau kelihatan pendatang, bakalan di mahal-mahalin.
2. NO GOOD BECAK
Kalau malem, susah cari angkot di jogja. Taxi mahal banget, dan becak lebih ngawur lagi. Untuk jarak kurang dari 500m, bisa ditarif 15ribu dengan jalan diputer2in. pernah sesekali kutes beberapa tukang becak, dengan rute biasa dan berlagak jadi orang baru. Ternyata mereka pasang harganya 3x lipat dengan alasan jauh. Padahal deket banget. Bikin Jadi.
3. DIRTY CITY
kotor n kumuh sekali kota ini. Di stasiun, di malioboro, di alun-alun, di warung-warung, Hihhh....
4. MACET---CET....
Udah kaya kota lain aja, macet dimana-mana, mau jalan aja susah. Motornya buanyuak banget.
5. SUSAH CARI MAKAN
Nah ini, kalo agak malem dikit, cari makan dah susah banget, mesti ke tempat-tempat tertentu, dan jauh, becak? mahal kali..... bhkan di malioboro jam 11 malem dah pada tutup. Kalau di Surabaya jam segitu baru mulai hidup kotanya.
6. TOO METRO
Bayangannya ke Jogja mau cari yang klasik-klasik, tapi nemunya tempat nongkrong yang chic n modern. Cafe-cafe banyak yang interiornya modern habis, tempat dugem marak, serasa di Legian aja.
7. PEDAGANG MALIOBORO NGAWUR
ini serius, pedagang malioboro ini kalo naikin harga suka seenak perutnya. Masa gelang yang kulakan seharga seribu sebiji, ditawarin 30ribu? baju yang ambilnya 10.000 dijual sampai 50.000 wah pokoknya ngawur. yag tak terbiasa tawar menawar kan jadi malas beli.

8. LESEHAN MALAM UNTUK ORANG BERDUIT

nongkrong di lesehan malioboro yang termashur itu jaman skarang sama juga bo'ong. Harga dinaikan seenak uedhele dhewe. Nawar? cari perkoro.


Jogja tak lagi nyaman. Kapan dia balik seperii dahulu?


BTW, I Still love jogja. my city. my vilage